Kamis, 22 Januari 2015

Di Pagi Buta

Langit-langit masih petang suram
Kabut-kabut pun masih tebal
Titik-titik embun menyegarkan tanaman
Genangan air di tepi jalan sisa hujan kemarin masih tampak
Udara dingin musim hujan menusuk-nusuk
Gunung di barat tampak samar-samar
Mungkin matahari masih ingin sembunyi
Dari arah mana dia akan muncul ?
Dari ufuk barat atau timur ?
Tuahn, aku sungguh tak tahu
Kuharap Engkau masih memberi ciptaan-Mu secercah harapan
Untuk terus bisa menyebut asma-Mu
Nama utusan-Mu pun masih sangat disanjung
Dunia ini masih begitu indah
Tetapi lebihnya adalah mengerikan
Tuhan, beri kami sedikit waktu lagi
Berilah kami kesempatan lagi 
 

Ulat Bulu

Tepian daun pisang menggulung-gulung
Bergoyang-goyang diterpa hujan
Si penghunu putih pasti kedinginan
Bulir-bulir air menyusupi rumahnya
Sedang dunia kawan kecil daratan
Tiada baik pula nasib mereka
Tumpahan air banjiri tanah mereka
Namun itu semua anugerah Tuhannya
Mensyukuri nikmat yang berlimpah dari-Nya 
Meski harus lari menyelamatkan nyawa
Sifat juang mereka tak kenal putus asa
Bak ulat bulu mendaki puncak
Puncak-puncak bunga yang tinggi
Menempel erat di bawah daunnya
Berlindung dari tuduhan hujan 

Lewat Jendela

Kaca-kaca ini mulai berembun
Terasa dingin dipeluk angin
Namun lubuk mata terasa panas
Air menggenang di pelupuk mata 
Jari mungil ini menari-nari menulis kata
Kata yang tak bermakna
Karena halilintar menyambar-nyambar garang
Cahaya kilat penerang langit kegelapan  
Dimanakah ibu di tengah rayuan petir ?
Hati getir sebab khawatir
Pandangna buran di balik jendela
Lalu lalang orang menipu mata
Apakah itu ibu ? 
Bukan, bukan ibu
Harapku semu mencemaskanmu 
Cepatlah pulang, segeralah datang
Temani aku di sini yang sedang ketakutan


Selasa, 13 Januari 2015

Detektif Semut

     "Ayooo... para detektif semut, sekarang kita mulai pencarian!" teriak Ila dengan semangat. Ia berlari. Teman-temannya tak kalah semangat berlari. Tidak perlu takut jatuh. Karpet hijau ini empuk.  Belalang-belalang berlompat ria kesana kemari. Tangan mereka membentang bak sayap pesawat terbang. Bahagianya menjadi mereka. Bebas, lepas, dan luas. Aku hanya bisa melihat mereka dari bayang-bayang masa kecilku saja. Tanpa beban. Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu. Ah, tidak mungkin. Hidup itu selalu melangkah dan aku harus terus melangkah agar aku tetap hidup. Sejenak saja kuluangkan waktuku untuk mengingat-ingat masa kecilku. 
     Sayangnya, kota besar menjadi awal kehidupanku. Keramaian kendaraan yang beradu gagahnya klakson menjadi hal yang biasa untuk diperdengarkan. Udara yang panas bercampur debu-debu membuat dadaku sesak. Uh, menyebalkan. Lagipula, sekolahku masih jauh. Mobil-mobil pengantar berjajar memenuhi halaman sekolah. Berlalu-lalang seenaknya sendiri. Ya sudahlah memang takdirku untuk bergaul dengan gaya hidup perkotaan. 
     Yes, pamanku dari desa datang. Aku akan ikut pamanku tinggal di sana. Mungkin orang tuaku tak perduli, kesibukannya menghalangi sayangnya padaku. Lagi pula pamanku tak merasa keberatan. Ternyata ayah ibuku tak semudah itu melepaskanku. Baik, aku hanya diberi waktu dua minggu untuk menikmati suasana desa bersama teman-teman baruku di sana nantinya. 
     Suasana kota sungguh tak lebih baik daripada suasana gerah di kota. Beberapa teman di sana menerimaku dengan baik. Watak ramah menjadi wajah di perkampungan pamanku, meski tidak semua begitu. Ini adalah teman-temanku para detektif semut. Lela, si cantik ceria yang sangat suka bercanda. Sangat menyenangkan saat bersamanya. Mira, si polos yang sukanya iseng, paling jijik dengan yang namanya cacing. Bila, Inun, Devi, dan bebrapa teman lainnya yang menemaniku berburu rumah semut di sana. Tanah lapang menjadi tempat keseharianku. Yang jelas, kini aku sangatlah merindukan mereka.
      Bagaimana, ya wajah mereka kini? Pasti mereka kini sangatlah cantik dan dewasa. Menyenangkan bisa mengenal mereka. Para detektif semut, tunggu aku. Aku akan datang mengajak kalian berlari lagi, lagi, dan lagi. ^_^

     

Selasa, 06 Januari 2015

Berharga

Sesuatu yang didapatkan dengan pengorbanan akan terasa sangat berharga daripada sesuatu yang didapat tanpa pengorbanan apapun.
Jadi, ada kalanya kita harus berkorban demi sesuatu yang ingin kita capai. Sama halnya dengan mencapai cita yang kita inginkan. Mengorbanankan waktu, biaya, tenaga, dan apapun akan dilakukan oleh orang yang benar-benar ingin sukses. Jangan takut untuk berkorban demi meraih keberhasilan.